
Asma Nadia, seorang Ibu dua anak yang merupakan Direktur Yayasan Prakarsa Irma Mandiri (Prima) adalah seorang penulis cerita pendek terkenal. Ibu bernama lengkap Asma Rosalba ini sudah mengenal dunia karang-mengarang sejak beliau mencipta lagu karyanya sendiri di Sekolah Dasar. Penulis cerpen yang lahir di Jakarta pada tahun 1972 ini telah banyak menulis cerita bersambung, serial, cerpen remaja, dan cerita anak. Beliau berhasil menjuarai Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) yang diadakan majalah ANNIDA tahun 1994 dan 1995.
Dalam buku ini, terdapat tiga cerita paling menarik, di antaranya yaitu “Jendela Rara”, “Jhoni the Boss”, dan “Ibu Pergi Sebulan”. Buku ini termasuk karya fiksi, sebagian besar cerita menampilkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat. Asma Nadia mampu menggambarkan kondisi kehidupan yang sebenarnya. Bagi remaja, kisah-kisah keseharian dengan realitas di kelas sosial pinggiran, sangatlah penting untuk mengasah nurani seperti yang digambarkan dalam cerpen berjudul “Jendela Rara”.
Lewat cerpen ini, Asma Nadia mengangkat kisah seorang anak bernama Rara yang memiliki semangat besar untuk mewujudkan mimpinya, yang bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya itu sangat tidak mungkin terwujud. Walaupun akhir cerita terkesan mengambang, akan tetapi penulis sudah mampu membawa pembaca untuk ikut merasakan betapa besarnya perjuangan seorang Rara hanya untuk memiliki sebuah jendela. Namun ia belum bisa mengerti akan keadaan sekitarnya, yang mana antara satu rumah dengan rumah yang lain hanya dibatasi tripleks saja. Karena ceritanya yang sangat menarik, didukung pula dengan bahasa yang mudah dipahami, cerpen ini menjadi jauh lebih hidup dan cocok sekali dibaca oleh semua kalangan karena terdapat banyak nilai sosial di dalamnya.
“Jhoni the Boss”, cerpen yang tak kalah menariknya dalam buku ini. Kalangan atas yang pada umumnya dikenal bersifat pelit dan sombong, diceritakan dalam suasana yang berbeda oleh Asma Nadia. Beliau menggambarkan sosok anak lelaki yang sangat baik serta dermawan, Jhoni. Karena sifatnya yang seperti itu, ia menjadi sumber kesenangan bagi teman-temannya. Akibatnya ia tak pernah bisa menolak apa saja permintaan teman-temannya walau pun waktu itu keadaan ekonomi keluarganya sangat tidak memungkinkan lagi. Dalam suasana ini, kisahnya memberi kesan berbeda terhadap sifat kalangan atas. Tanpa harus menggunakan bahasa baku yang sulit dimengerti, cerita ini dapat hidup dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Jalan cerita yang begitu menarik membuat pembaca tak jenuh untuk terus membacanya hingga selesai. Cerita ini sungguh jauh dari realita, karena sangat kecil kemungkinan ada sosok seperti Jhoni, yang rela menghabiskan kekayaannya hanya untuk kesenangan orang lain.
Satu lagi cerpen yang sangat menarik dalam buku ini, berjudul “Ibu Pergi Sebulan”. Dikisahkan seorang Ibu yang memanfaatkan keluguan anaknya untuk selalu berbohong, dengan imbalan sebuah permen kojek. Akibatnya apa yang seharusnya didapatkan oleh keluarga itu, akhirnya hilang oleh kecerobohan sang Ibu, yaitu kehilangan hadiah televisi dari sebuah undian yang dimenangkan mereka. Dengan menggunakan bahasa sehari-hari, cerpen ini mengandung berbagai macam nilai sosial dalam ruang lingkup kecil, yaitu lingkungan keluarga. Ceritanya yang unik dan terdapat banyak humor tersembunyi di dalamnya, membuat pembaca tak bosan mengikuti alur cerita tersebut.
Tidak banyak penulis cerita pendek Indonesia yang memiliki kesegaran dan kelincahan dalam bercerita seperti Asma Nadia. Berbagai tema beliau kendalikan dengan baik. Dari hal yang rumit, sampai persoalan yang sepele sekali pun. Karena itu, buat para kawula muda mana pun, akan rugi jika tak membacanya. Dengan membaca buku ini, dijamin kita akan lebih berani dan lebih maju untuk berpikir dan tampil beda.
Kode Buku : GM 303 03.002
Judul : CINTA TAK PERNAH MENARI
Pengarang : ASMA NADIA
Tahun : Cet 1, Agustus 2003
Dimensi : 11 x 18 cm , HVS , 152 hlm
ISBN :
979-22-0466-0
Harga Buku : 20.000,00

Tidak ada komentar:
Posting Komentar